ERAU
Asal katanya dalam bahasa daerah Kutai ‘eroh’ yang artinya :
ramai, riuh, rebut, suasana yang penuh suka cita. Suasana yang ramai, riuh
rendah tersebut dalam arti banyaknya kegiatan kelompok orang yang mempunyai
hajat dan mengandung makna, baik bersifat sacral, ritual, dan yang bersifat
hiburan kegembiraan.
Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian
budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa
Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan . Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun
sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak
29 September 1782. Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan
A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai Kartanegara dengan
kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh
mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan
yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan
olahraga/ketangkasan.
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau
sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara
tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota
Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events
pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai
Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan
budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai
Kartanegara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar